3/28/2013

Hari  demi hari aku jalani dengan mencoba sebuah pertanyaan "Salahkah aku menerima cinta Jo?" seperti sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda. Aku merasa begitu nyaman bersamanya, tapi di sisi lain hati ini masih belum seutuhnya terlepas dari cengkraman Radit (mantanku). Entah darimana, tapi aku pernah mendengar sebuah kalimat "Cinta datang karena terbiasa" mungkin ini bisa menjadi salah satu alasan menerima Jo. Sebuah problematika yang aku jalani kali ini lebih membingungkan dari biasanya, ketika tadi aku percaya diri melangkah dibawah kalimat "Cinta datang karena terbiasa, tiba-tiba seseorang di televisi yang berpakaian rapih, rambut seperti profesor, diakhir kalimat selalu bicara "Itu!" dan pembawa acara menjawab "Super sekali!" berkata "Cintailah aku sepenuhnya atau tidak sama sekali". JLEB. Seketika aku berpikir, bagaimana berada di posisi Jo. Akkhhhh semua ini terlambat.

Sebenarnya hidup ini lebih rumit dirangkai dari puzzle manapun yang pernah ada, lebih sulit ditebak ketimbang skor sebuah pertandingan sepak bola, dan masalah yang ada, lebih kompleks daripada senyawa kimia kompleks manapun. Akhirnya aku lebih memilih mencoba melanjutkan "kesalahan" yang telah dilakukan. Terlihat berpura-pura mencintai Jo. Memang, aku merasa nyaman dengannya, tapi sebuah sekat seperti memagari apa yang aku lakukan, jujur. Aku lebih menyukai saat kami berteman, hanya, saat seseorang mengungkapkan perasaan kepada sang pujaan, hanya ada dua pilihan "semakin dekat" atau "semakin jauh" dan aku tak ingin dia menjauh, walau harus aku melakukan kebohongan. Aku egois? memang, aku tak mau dia menjauh hanya karena tahu, apa yang aku rasakan sebatas teman, dan dia merasakan kita bisa menjadi pasangan tak bisa bersatu. Sebuah ungkapan "Mencintai tanpa dicintai" hanya ada di negeri dongeng, semua orang ingin cinta dibalas cinta, suka dibalas suka, dan sayang dibalas sayang.

Aku ini memang munafik, setiap hari aku berkata ingin melupakannya, tapi masih saja setiap malam memandangi barang pemberiannya, fotonya, malah sebelum tidur aku putar lagu yang bisa mengingatkanku dengan dirinya. Inilah yang dirasakan wanita dengan berjuta kebodohannya. Padahal jelas-jelas di depanku ada lelaki baik hati membawa cinta sepenuh hati, namun masih aku memikirkan, malahan menggantungkan harapan pada lelaki yang pernah melukai.

Mulai aku berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jo, tapi itu semua hanya sebatas keluar dari mulut yang sebenarnya tertutup. Memang sifat dasar wanita "Labil"

Dalam hati selalu terjadi pertentangan menarik setiap harinya di dalam batin, "haruskah aku mempertahankan, atau memperjuangkan? haruskah aku menarik ulur masa lalu daripada menyongsong kehidupan baru? haruskah aku meninggalkan orang yang baru kumiliki demi orang yang dulu pernah melukai?" pertanyaan yang mudah sekali dijawab, tapi sulit untuk dilakukan.

Akhirnya aku mencoba tegas dalam bertindak, rela membuang hal yang berkaitan dengan Radit, mulai dari beberapa chat masa lalu yang sebenarnya penuh dengan kenangan, foto saat kita bersama, barang pemberiannya, sampai-sampai lagu yang memiliki kenangan ataupun mengingatkanku pada Radit, aku delete .kejam? bukan kejam, hanya bertidak TEGAS. Mulai aku merefresh pikiran-pikiran mengganggu tentang yang pernah kulakukan dengan Radit, menggantinya dengan hal menyenangkan bersama Jo. Awalnya ini memang sulit, tapi aku terus mencoba hingga akhirnya terbiasa dan lupa.

Say Hi to Jo and Thanks to Radit.

Kamu bukan tidak bisa melupakannya, hanya belum mau melepasnya. Karena sebaik-baiknya move on adalah mencoba mencari penggantinya, bukan caranya.

Ambigu Part III

Hari  demi hari aku jalani dengan mencoba sebuah pertanyaan "Salahkah aku menerima cinta Jo?" seperti sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda. Aku merasa begitu nyaman bersamanya, tapi di sisi lain hati ini masih belum seutuhnya terlepas dari cengkraman Radit (mantanku). Entah darimana, tapi aku pernah mendengar sebuah kalimat "Cinta datang karena terbiasa" mungkin ini bisa menjadi salah satu alasan menerima Jo. Sebuah problematika yang aku jalani kali ini lebih membingungkan dari biasanya, ketika tadi aku percaya diri melangkah dibawah kalimat "Cinta datang karena terbiasa, tiba-tiba seseorang di televisi yang berpakaian rapih, rambut seperti profesor, diakhir kalimat selalu bicara "Itu!" dan pembawa acara menjawab "Super sekali!" berkata "Cintailah aku sepenuhnya atau tidak sama sekali". JLEB. Seketika aku berpikir, bagaimana berada di posisi Jo. Akkhhhh semua ini terlambat.

Sebenarnya hidup ini lebih rumit dirangkai dari puzzle manapun yang pernah ada, lebih sulit ditebak ketimbang skor sebuah pertandingan sepak bola, dan masalah yang ada, lebih kompleks daripada senyawa kimia kompleks manapun. Akhirnya aku lebih memilih mencoba melanjutkan "kesalahan" yang telah dilakukan. Terlihat berpura-pura mencintai Jo. Memang, aku merasa nyaman dengannya, tapi sebuah sekat seperti memagari apa yang aku lakukan, jujur. Aku lebih menyukai saat kami berteman, hanya, saat seseorang mengungkapkan perasaan kepada sang pujaan, hanya ada dua pilihan "semakin dekat" atau "semakin jauh" dan aku tak ingin dia menjauh, walau harus aku melakukan kebohongan. Aku egois? memang, aku tak mau dia menjauh hanya karena tahu, apa yang aku rasakan sebatas teman, dan dia merasakan kita bisa menjadi pasangan tak bisa bersatu. Sebuah ungkapan "Mencintai tanpa dicintai" hanya ada di negeri dongeng, semua orang ingin cinta dibalas cinta, suka dibalas suka, dan sayang dibalas sayang.

Aku ini memang munafik, setiap hari aku berkata ingin melupakannya, tapi masih saja setiap malam memandangi barang pemberiannya, fotonya, malah sebelum tidur aku putar lagu yang bisa mengingatkanku dengan dirinya. Inilah yang dirasakan wanita dengan berjuta kebodohannya. Padahal jelas-jelas di depanku ada lelaki baik hati membawa cinta sepenuh hati, namun masih aku memikirkan, malahan menggantungkan harapan pada lelaki yang pernah melukai.

Mulai aku berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jo, tapi itu semua hanya sebatas keluar dari mulut yang sebenarnya tertutup. Memang sifat dasar wanita "Labil"

Dalam hati selalu terjadi pertentangan menarik setiap harinya di dalam batin, "haruskah aku mempertahankan, atau memperjuangkan? haruskah aku menarik ulur masa lalu daripada menyongsong kehidupan baru? haruskah aku meninggalkan orang yang baru kumiliki demi orang yang dulu pernah melukai?" pertanyaan yang mudah sekali dijawab, tapi sulit untuk dilakukan.

Akhirnya aku mencoba tegas dalam bertindak, rela membuang hal yang berkaitan dengan Radit, mulai dari beberapa chat masa lalu yang sebenarnya penuh dengan kenangan, foto saat kita bersama, barang pemberiannya, sampai-sampai lagu yang memiliki kenangan ataupun mengingatkanku pada Radit, aku delete .kejam? bukan kejam, hanya bertidak TEGAS. Mulai aku merefresh pikiran-pikiran mengganggu tentang yang pernah kulakukan dengan Radit, menggantinya dengan hal menyenangkan bersama Jo. Awalnya ini memang sulit, tapi aku terus mencoba hingga akhirnya terbiasa dan lupa.

Say Hi to Jo and Thanks to Radit.

Kamu bukan tidak bisa melupakannya, hanya belum mau melepasnya. Karena sebaik-baiknya move on adalah mencoba mencari penggantinya, bukan caranya.

3/01/2013



Namaku Renata, 18 tahun. Murid pindahan dari Yogyakarta. Hidup memang sebuah pilihan yang membingungkan, termasuk pilihanku untuk pindah dari Yogyakarta ke Bandung. Sebenarnya ayah dan ibu menetap disana,aku hanya menumpang disini bersama paman dan tante. Faktor yang mendorong aku untuk pindah adalah banyaknya kenangan yang aku rasakan dengan seseorang yang disebut "mantan" mungkin ini alasan paling bodoh, tapi sebagian wanita mungkin pernah merasakan hal demikian. Tidak mudah bagiku melupakan orang yang dulu kuanggap jodoh yang diberikan Tuhan. Tidak mudah bagiku membuang apa yang sampai sekarang selalu aku kenang. Tidak mudah bagiku merelakan orang yang dulu selalu aku idam-idamkan, Ahh.. terlalu larut aku dalam sebuah kenangan.

Genap enam bulan aku hidup di Bandung, sesekali aku termenung mengingat dia yang pernah memberi bahagia sekaligus luka. Sebuah hadiah yang dulu kamu berikan terlihat rapi di samping ranjang yang aku gunakan, malah diam-diam aku masih menyimpan foto-foto saat kita masih saling mengindahkan, Spontan neuron-neuron dalam tubuh ini saling berkaitan, mengingatkan dulu yang pernah kita lakukan. Benar-benar membingungkan, sebuah alasan yang aku gunakan meninggalkan Yogyakarta malah aku bawa, malah semakin menggila aku dibuatnya. 

Mundur sekitar dua bulan ke belakang. Sesosok pria datang dalam hidup yang hampir aku buang, Yosua namanya, terdengar unik, sesuai dengan sifatnya yang menarik, mampu membuat bibir ini terusik dengan gerik yang cantik. Yaa. dia mampu membuatku tertawa, padahal belum satu minggu kita bertegur sapa, hanya dia sangat pandai memainkan kata, saat dia bercerita aku paling suka.

Singkat kata singkat cerita, Yosua mulai sering mengajak jalan, hanya berduaan. Aku rasa ini hanya sebatas perasaan biasa seorang teman, tak lebih dari demikian. Nyaman? ya, aku merasakan nyaman, nyaman dalam ikatan pertemanan, tak lebih. Banyak yang mengira kita pacaran, tak apalah aku anggap itu hanya celotehan biasa dari seorang biang gosip. Suatu ketika pernah dia memperlihatkan sebuah tulisan, indah sekali. Racikan kata yang puitis, dibumbui romantis, membuatku terhipnotis. Tampaknya jari-jari dia memang bisa menari dengan striptis yang menghasilkan manis.

Senja hari. Anak kecil berlari dengan wajah berseri, daun-daun terlihat menari diterpa angin sejuk yang datang sesekali. Sore ini aku diajak Yosua pergi ke taman. Seperti biasa, dia mulai bercerita dengan penuh suka cita lebih dari sekali, aku dibuatnya tertawa. Nyaman? Tentu nyaman, sebagai seorang teman dia memang tak bisa di duakan.

Hingga tiba-tiba cerita mu berhenti, sontak tawa yang tadi keluar dari bibir terbuka segera tertutup rapat. sangat rapat dari lem apapun yang pernah di dapat. Dia mulai berkata "kamu tau, segala hal yang kita rasakan lebih baik kita ungkapkan, walaupun itu menyenangkan atau menyakitkan" aku hanya mengangguk, tanda mengiyakan, dia melanjutkan "Aku sayang kamu" Samar-samar aku mendengar, mata tak percaya telinga seolah tak menerka, tak disangka kamu berkata cinta. Sejenak aku berpikir, dikejar waktu yang terus menunggu, hingga mulutku mulai bergerak ragu "Jo.. Aku juga sayang kamu" terlihat wajah tegang darinya mulai mencair, sedangkan aku? aku malah membeku, entah yang aku katakan memang sebuah kenyataan atau alasan menutup sebuah kekecewaan yang mungkin akan dirasakan seorang teman. "Apakah aku benar-benar menyayanginya?" pertanyaan yang selalu terbayang dalam benak. Seolah aku hanya kasihan pada seorang teman. Ya, hanya kasihan.

Bersambung Ambigu PART III << 

Ambigu Part II



Namaku Renata, 18 tahun. Murid pindahan dari Yogyakarta. Hidup memang sebuah pilihan yang membingungkan, termasuk pilihanku untuk pindah dari Yogyakarta ke Bandung. Sebenarnya ayah dan ibu menetap disana,aku hanya menumpang disini bersama paman dan tante. Faktor yang mendorong aku untuk pindah adalah banyaknya kenangan yang aku rasakan dengan seseorang yang disebut "mantan" mungkin ini alasan paling bodoh, tapi sebagian wanita mungkin pernah merasakan hal demikian. Tidak mudah bagiku melupakan orang yang dulu kuanggap jodoh yang diberikan Tuhan. Tidak mudah bagiku membuang apa yang sampai sekarang selalu aku kenang. Tidak mudah bagiku merelakan orang yang dulu selalu aku idam-idamkan, Ahh.. terlalu larut aku dalam sebuah kenangan.

Genap enam bulan aku hidup di Bandung, sesekali aku termenung mengingat dia yang pernah memberi bahagia sekaligus luka. Sebuah hadiah yang dulu kamu berikan terlihat rapi di samping ranjang yang aku gunakan, malah diam-diam aku masih menyimpan foto-foto saat kita masih saling mengindahkan, Spontan neuron-neuron dalam tubuh ini saling berkaitan, mengingatkan dulu yang pernah kita lakukan. Benar-benar membingungkan, sebuah alasan yang aku gunakan meninggalkan Yogyakarta malah aku bawa, malah semakin menggila aku dibuatnya. 

Mundur sekitar dua bulan ke belakang. Sesosok pria datang dalam hidup yang hampir aku buang, Yosua namanya, terdengar unik, sesuai dengan sifatnya yang menarik, mampu membuat bibir ini terusik dengan gerik yang cantik. Yaa. dia mampu membuatku tertawa, padahal belum satu minggu kita bertegur sapa, hanya dia sangat pandai memainkan kata, saat dia bercerita aku paling suka.

Singkat kata singkat cerita, Yosua mulai sering mengajak jalan, hanya berduaan. Aku rasa ini hanya sebatas perasaan biasa seorang teman, tak lebih dari demikian. Nyaman? ya, aku merasakan nyaman, nyaman dalam ikatan pertemanan, tak lebih. Banyak yang mengira kita pacaran, tak apalah aku anggap itu hanya celotehan biasa dari seorang biang gosip. Suatu ketika pernah dia memperlihatkan sebuah tulisan, indah sekali. Racikan kata yang puitis, dibumbui romantis, membuatku terhipnotis. Tampaknya jari-jari dia memang bisa menari dengan striptis yang menghasilkan manis.

Senja hari. Anak kecil berlari dengan wajah berseri, daun-daun terlihat menari diterpa angin sejuk yang datang sesekali. Sore ini aku diajak Yosua pergi ke taman. Seperti biasa, dia mulai bercerita dengan penuh suka cita lebih dari sekali, aku dibuatnya tertawa. Nyaman? Tentu nyaman, sebagai seorang teman dia memang tak bisa di duakan.

Hingga tiba-tiba cerita mu berhenti, sontak tawa yang tadi keluar dari bibir terbuka segera tertutup rapat. sangat rapat dari lem apapun yang pernah di dapat. Dia mulai berkata "kamu tau, segala hal yang kita rasakan lebih baik kita ungkapkan, walaupun itu menyenangkan atau menyakitkan" aku hanya mengangguk, tanda mengiyakan, dia melanjutkan "Aku sayang kamu" Samar-samar aku mendengar, mata tak percaya telinga seolah tak menerka, tak disangka kamu berkata cinta. Sejenak aku berpikir, dikejar waktu yang terus menunggu, hingga mulutku mulai bergerak ragu "Jo.. Aku juga sayang kamu" terlihat wajah tegang darinya mulai mencair, sedangkan aku? aku malah membeku, entah yang aku katakan memang sebuah kenyataan atau alasan menutup sebuah kekecewaan yang mungkin akan dirasakan seorang teman. "Apakah aku benar-benar menyayanginya?" pertanyaan yang selalu terbayang dalam benak. Seolah aku hanya kasihan pada seorang teman. Ya, hanya kasihan.

Bersambung Ambigu PART III << 

2/20/2013


Kita semua tahu, manusia diciptakan tidak sendiri. Memiliki pasangan yang sudah ditetapkan sang Ilahi. Tapi apakah kita akan terus menunggu dengan beralasan pendapat itu? atau mencari, mengikuti keinginan hati? semua tergantung pilihan sendiri.

Tahukah kalian arti dari kata mencari? Keinginan hati untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Aku rasa itu yang lebih baik ketimbang menunggu, yang membelenggu. Aku sendiri? Mencari!

Pernah merasakan, berhasil menemui orang yang kita cintai dengan mencari? Dunia terasa milik sendiri, rasa bahagia tak kunjung berhenti bak hujan deras membasahi bumi, urusan dia juga mencintai? itu urusan nanti. Terpenting aku merasa senang yang tak kunjung pergi. Aku sangat menikmati.

Musim boleh semi, tapi hati tetap berseri-seri. Dengan berani aku mulai menghubungi, dalam angan "dia yang akan menjadi pujaan hati" salah.. bukan dia tapi anda. Kurasa. Respon yang kamu berikan positif, mulai aku merasa pendekatan yang aku lakukan efektif.

Renata, namanya. Hanya lebih sering ku panggil dia rere, terdengar lebih dekat dan akrab. Begitupun dia, memanggil aku dengan seenaknya, walau begitu aku tetap suka. "Jo" panggilan yang dia ucapkan, padahal namaku Yosua, entah darimana dia mendapatkan panggilan seperti itu, tapi tak mengapa, aku selalu suka apapun darinya. lebih dari itu. Aku merasa Bahagia. Dengannya.

Dua minggu, tak terasa berlalu dengan cepatnya, Lebih cepat dari rekor pesawat jet yang pernah ada. Walau itu hanya perasaanku saja. Hingga aku lebih berani dalam berkomunikasi dengan Renata. Yang aku cintai. Malah hari ini, kita pulang bersama, dibumbui dengan penuh canda tawa. Kamu menyukai ketika aku mulai berpuisi, akupun demikian, menyukai ketika melihat senyum yang tulus dari hati. Sesekali kamu mencubit pinggangku, respon saat kita bergurau, aneh! aku malah tak mau lepas dari cubitanmu, untuk sekedar lebih lama bersamamu. Hari mulai senja, burung-burung kecil mencari induknya. Kamu pulang ke rumah, memandang kesini, tempat ku berdiri. Sesekali menebar senyum penyejuk hati. Ahh, rasa seperti ini, membuatku merasa mati suri, tubuh kaku, wajah malu, hati ingin memilikimu. Selalu.

Sampai dirumah, segera aku merebah, memanjakan tubuh yang lelah. Mengadah melihat langit-langit rumah. Indah!! Tergambar jelas. Senyum lepas membuat hati ini lepas landas, jauh ke galaksi atas. Walau hanya bayangan, kamu tampak nyata dalam pikiran, cukup membayangkan kamu, seakan-akan kita saling berhadapan. Mungkin terkesan berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan. Orang yang pernah/sedang jatuh cinta pasti memaklumkan.

"Renata. Apa kamu merasakan yang sedang aku pikirkan? Apa kamu memikirkan saat kita saling berhadapan? Apa kamu bisa mengartikan kode-kode dari apa yang aku lakukan? Atau Boleh aku jujur ketika kamu tak mampu menjawab pertanyaan yang aku tutur?. Aku merasa bulan tak memancarkan segemerlap dulu, aku telah melihat yang lebih gemerlap, ya. Senyum dan lesung pipimu. Aku menggombal? menggombal katamu? ketika aku berani berkata jujur, menahan malu demi menggapai keinginan. Memilikimu. Lebih dari itu, selalu bersamamu" Pesan ini hanya berakhir pada sebuah draft, pesan yang aku kirim hanya sebatas "Makasih yaa, kapan-kapan kita jalan bareng lagi. Jangan lupa makan sama mandi :)" Bukan sebuah tirai berani yang dihadapi. Hanya aku masih menanti, senja hari saat kita saling mengerti. Dengan sendiri.

"Pagi hari minggu, aku menyambutmu dengan semangat menggebu" dalam hati ini. Bukan tanpa alasan, dan bualan. Hari ini aku dan Renata jalan, dengan harapan, sebuah angan yang menjadi kenyataan. Kita menjadi pasangan. Padahal hanya 1 hari, sejak aku mengajakmu jalan. Tapi terasa lambat sekali, lebih lambat dari seekor kura-kura yang pernah ada. Satu hari terasa berhari-hari. Mungkin ini faktor akan bertemu Renata, yang aku cinta. Ah sudahlah, yang penting sekarang kita tidak dalam sebrang, satu jalan.

Jalan-jalan di taman memang berkesan, aku mengajakmu, dengan menggantungkan sebuah harapan. Pukul empat sore aku menjemputmu, sengaja aku tidak membawa kendaraan, lebih memilih jalan berduaan. Pandanganku tak mau lepas dari wajahmu, Ah malu aku ketika kamu menyadari itu, segera aku berpura-pura, membuang wajah ini, sejauh yang aku bisa. Namun kamu hanya tersenyum, senyum ambigu menurutku. Antara kamu malu dan menyukai ketika, aku melakukan itu.

Duduk di taman berduaan adalah kenyataan yang sekarang sedang aku dan Renata lakukan. Memecah sepi dengan senyuman sesekali, saat kamu menyukai candaan ini.Tapi itu hanya sesekali, saat ini aku memilih suasana sunyi, untuk mengucapkan yang kurasakan dalam hati. Gugup? pasti. dalam hati, aaku memilih nanti..nanti dan nanti, sampai akhirnya aku mulai berani. " kamu tau, segala hal yang kita rasakan lebih baik kita ungkapkan, walaupun itu menyenangkan atau menyakitkan?" dengan gugup aku berucap. Kamu hanya menjawab dengan anggukan, aku lanjutkan "Aku sayang kamu" hening.. hening sekali, suara orang sekitar tak terdengar. bukan tuli hanya memang terasa sunyi. "Re" aku mencoba menyadarkannya, dia terlihat heran dengan wajah memerah, seakan dia tak ingin berbicara, bingung dengan yang dia rasa. Mulutnya mulai bergerak dan keluarlah kalimat "Jo..."
Bersambung ke Ambigu (Part II)

Ambigu Part I


Kita semua tahu, manusia diciptakan tidak sendiri. Memiliki pasangan yang sudah ditetapkan sang Ilahi. Tapi apakah kita akan terus menunggu dengan beralasan pendapat itu? atau mencari, mengikuti keinginan hati? semua tergantung pilihan sendiri.

Tahukah kalian arti dari kata mencari? Keinginan hati untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Aku rasa itu yang lebih baik ketimbang menunggu, yang membelenggu. Aku sendiri? Mencari!

Pernah merasakan, berhasil menemui orang yang kita cintai dengan mencari? Dunia terasa milik sendiri, rasa bahagia tak kunjung berhenti bak hujan deras membasahi bumi, urusan dia juga mencintai? itu urusan nanti. Terpenting aku merasa senang yang tak kunjung pergi. Aku sangat menikmati.

Musim boleh semi, tapi hati tetap berseri-seri. Dengan berani aku mulai menghubungi, dalam angan "dia yang akan menjadi pujaan hati" salah.. bukan dia tapi anda. Kurasa. Respon yang kamu berikan positif, mulai aku merasa pendekatan yang aku lakukan efektif.

Renata, namanya. Hanya lebih sering ku panggil dia rere, terdengar lebih dekat dan akrab. Begitupun dia, memanggil aku dengan seenaknya, walau begitu aku tetap suka. "Jo" panggilan yang dia ucapkan, padahal namaku Yosua, entah darimana dia mendapatkan panggilan seperti itu, tapi tak mengapa, aku selalu suka apapun darinya. lebih dari itu. Aku merasa Bahagia. Dengannya.

Dua minggu, tak terasa berlalu dengan cepatnya, Lebih cepat dari rekor pesawat jet yang pernah ada. Walau itu hanya perasaanku saja. Hingga aku lebih berani dalam berkomunikasi dengan Renata. Yang aku cintai. Malah hari ini, kita pulang bersama, dibumbui dengan penuh canda tawa. Kamu menyukai ketika aku mulai berpuisi, akupun demikian, menyukai ketika melihat senyum yang tulus dari hati. Sesekali kamu mencubit pinggangku, respon saat kita bergurau, aneh! aku malah tak mau lepas dari cubitanmu, untuk sekedar lebih lama bersamamu. Hari mulai senja, burung-burung kecil mencari induknya. Kamu pulang ke rumah, memandang kesini, tempat ku berdiri. Sesekali menebar senyum penyejuk hati. Ahh, rasa seperti ini, membuatku merasa mati suri, tubuh kaku, wajah malu, hati ingin memilikimu. Selalu.

Sampai dirumah, segera aku merebah, memanjakan tubuh yang lelah. Mengadah melihat langit-langit rumah. Indah!! Tergambar jelas. Senyum lepas membuat hati ini lepas landas, jauh ke galaksi atas. Walau hanya bayangan, kamu tampak nyata dalam pikiran, cukup membayangkan kamu, seakan-akan kita saling berhadapan. Mungkin terkesan berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan. Orang yang pernah/sedang jatuh cinta pasti memaklumkan.

"Renata. Apa kamu merasakan yang sedang aku pikirkan? Apa kamu memikirkan saat kita saling berhadapan? Apa kamu bisa mengartikan kode-kode dari apa yang aku lakukan? Atau Boleh aku jujur ketika kamu tak mampu menjawab pertanyaan yang aku tutur?. Aku merasa bulan tak memancarkan segemerlap dulu, aku telah melihat yang lebih gemerlap, ya. Senyum dan lesung pipimu. Aku menggombal? menggombal katamu? ketika aku berani berkata jujur, menahan malu demi menggapai keinginan. Memilikimu. Lebih dari itu, selalu bersamamu" Pesan ini hanya berakhir pada sebuah draft, pesan yang aku kirim hanya sebatas "Makasih yaa, kapan-kapan kita jalan bareng lagi. Jangan lupa makan sama mandi :)" Bukan sebuah tirai berani yang dihadapi. Hanya aku masih menanti, senja hari saat kita saling mengerti. Dengan sendiri.

"Pagi hari minggu, aku menyambutmu dengan semangat menggebu" dalam hati ini. Bukan tanpa alasan, dan bualan. Hari ini aku dan Renata jalan, dengan harapan, sebuah angan yang menjadi kenyataan. Kita menjadi pasangan. Padahal hanya 1 hari, sejak aku mengajakmu jalan. Tapi terasa lambat sekali, lebih lambat dari seekor kura-kura yang pernah ada. Satu hari terasa berhari-hari. Mungkin ini faktor akan bertemu Renata, yang aku cinta. Ah sudahlah, yang penting sekarang kita tidak dalam sebrang, satu jalan.

Jalan-jalan di taman memang berkesan, aku mengajakmu, dengan menggantungkan sebuah harapan. Pukul empat sore aku menjemputmu, sengaja aku tidak membawa kendaraan, lebih memilih jalan berduaan. Pandanganku tak mau lepas dari wajahmu, Ah malu aku ketika kamu menyadari itu, segera aku berpura-pura, membuang wajah ini, sejauh yang aku bisa. Namun kamu hanya tersenyum, senyum ambigu menurutku. Antara kamu malu dan menyukai ketika, aku melakukan itu.

Duduk di taman berduaan adalah kenyataan yang sekarang sedang aku dan Renata lakukan. Memecah sepi dengan senyuman sesekali, saat kamu menyukai candaan ini.Tapi itu hanya sesekali, saat ini aku memilih suasana sunyi, untuk mengucapkan yang kurasakan dalam hati. Gugup? pasti. dalam hati, aaku memilih nanti..nanti dan nanti, sampai akhirnya aku mulai berani. " kamu tau, segala hal yang kita rasakan lebih baik kita ungkapkan, walaupun itu menyenangkan atau menyakitkan?" dengan gugup aku berucap. Kamu hanya menjawab dengan anggukan, aku lanjutkan "Aku sayang kamu" hening.. hening sekali, suara orang sekitar tak terdengar. bukan tuli hanya memang terasa sunyi. "Re" aku mencoba menyadarkannya, dia terlihat heran dengan wajah memerah, seakan dia tak ingin berbicara, bingung dengan yang dia rasa. Mulutnya mulai bergerak dan keluarlah kalimat "Jo..."
Bersambung ke Ambigu (Part II)

2/17/2013


Ayah, Ibu terimakasih.
Memberi aku sebuah kasih, tanpa memilih. Ayah mengajarkan bagaimana menjadi seorang yang gagah, walau terkadang aku lebih sering terlihat lemah. Tapi tak apa. seolah itu semua bukan masalah bagi ayah yang tak kenal lelah. Ibu, malaikat yang diturunkan untuk menjagaku, berlebihan? tak apa. Itu yang kurasa. Suatu ketika aku terjatuh dan menangis, akibat kesalahanku yang lari saat hendak Ibu beri sesuap nasi. Aku marah, padahal sudah jelas aku yang salah. Tapi kasih ibu tak pernah kalah, hanya karena melihatku marah. Senyum selalu yang terpancar dari bibir Ibu, walau dibalik itu ada rasa pilu melihat sikapku yang tak mau menurutimu. Memang ibu seorang malaikat yang selalu menjagaku. Lebih dari itu, tak mau marah dihadapanku.

Ayah pintar sekali memberi sebuah pepatah. 
Apa yang ayah berikan, lebih dari ujaran, ungkapan, pernyataan. Melainkan panduan, dalam melakukan sebuah perbuatan. Namun terkadang aku meragukan apa yang ayah berikan, seenaknya aku bergumam "Ayah tidak mengerti" ataupun "zaman dulu dan zaman sekarang itu berbeda"  menggerutu dan meremehkan perkataan ayah, padahal itu berujung sebuah penyesalan.
Sampai aku guratkan tinta hitam pada secarik kertas hari ini, semakin ku dapati. Sebenarnya perbuatan ayah bersifat menguatkan. Kadang itu perkataan, bentakan, tatapan. Itu semua demi aku yang lemah, jauh dari kata gagah seperti ayah. Maafkanlah.



Ibu terkadang memilih bersandiwara.
Pintar sekali Ibu melakukan ini. Terlihat kenyang padahal merasa lapar, hanya demi aku. Orang yang sering menyusahkan. Ibu sering memilih merasa getir, daripada melihatku khawatir. Memiliki kepekaan tinggi terhadap hal yang tersirat walaupun tak tersurat, Ibu jutaan kali lebih hebat dari pacarmu dalam hal tersebut. Tanpa mengucap "aku lapar" ibu sudah menyiapkan makanan di meja makan, setiap pagi. Yang selalu aku ingat. Sebanyak samudera air mata yang tumpah dari kelopak mataku, sebanyak itu pula ibu mengusapnya. Sungguh. Selama apapun aku memilih mainan, selama itu pula ibu menunggu dengan sesekali melontarkan senyuman. 
Suatu malam gelap aku melihat, ibu masih memakai mukena dan memegang al qur'an, binar-binar matanya menusuk hatiku "ibu kenapa?" setengah mengantuk dan sedih, dengan suara perlahan. pelan sekali. "sebentar lagi kamu kuliah" hanya itu. Ibu tak kuasa lagi menahan beratnya tekanan. Dalam kelopak mata. Memelukku erat sambil menangis, di malam itu. Akupun ikut larut, tak kurasa satu persatu akhirnya menjadi beribu. Air jatuh yang mewakili rasa yang tak mampu berucap, jangankan berucap. Menatap pun tak mampu. Dekapan Ibu lebih kurang mewakilkan apa yang hendak dia ucapkan "sebentar lagi kamu kuliah, ayah dan ibu hanya berdua disini. kesepian demi kamu, yang siap menyongsong masa depan." arrgghhhh. IBUUUUUU.

Ayah, Ibu maafkan.
Sering aku mengabaikan apa yang seharusnya aku lakukan, melawan apa yang tak seharusnya kulakukan. Semuanya mengecewakan, Bagi kalian... Penyesalan. Itu yang jelas tergambar dalam benak pikiran. Maafkan. Aku cinta kalian, dengan segala kekurangan. Sekali lagi. Maafkan, aku dengan segala kekurangan.  Maafkan. Maafkan. Maafkan.

Surat Seorang Anak


Ayah, Ibu terimakasih.
Memberi aku sebuah kasih, tanpa memilih. Ayah mengajarkan bagaimana menjadi seorang yang gagah, walau terkadang aku lebih sering terlihat lemah. Tapi tak apa. seolah itu semua bukan masalah bagi ayah yang tak kenal lelah. Ibu, malaikat yang diturunkan untuk menjagaku, berlebihan? tak apa. Itu yang kurasa. Suatu ketika aku terjatuh dan menangis, akibat kesalahanku yang lari saat hendak Ibu beri sesuap nasi. Aku marah, padahal sudah jelas aku yang salah. Tapi kasih ibu tak pernah kalah, hanya karena melihatku marah. Senyum selalu yang terpancar dari bibir Ibu, walau dibalik itu ada rasa pilu melihat sikapku yang tak mau menurutimu. Memang ibu seorang malaikat yang selalu menjagaku. Lebih dari itu, tak mau marah dihadapanku.

Ayah pintar sekali memberi sebuah pepatah. 
Apa yang ayah berikan, lebih dari ujaran, ungkapan, pernyataan. Melainkan panduan, dalam melakukan sebuah perbuatan. Namun terkadang aku meragukan apa yang ayah berikan, seenaknya aku bergumam "Ayah tidak mengerti" ataupun "zaman dulu dan zaman sekarang itu berbeda"  menggerutu dan meremehkan perkataan ayah, padahal itu berujung sebuah penyesalan.
Sampai aku guratkan tinta hitam pada secarik kertas hari ini, semakin ku dapati. Sebenarnya perbuatan ayah bersifat menguatkan. Kadang itu perkataan, bentakan, tatapan. Itu semua demi aku yang lemah, jauh dari kata gagah seperti ayah. Maafkanlah.



Ibu terkadang memilih bersandiwara.
Pintar sekali Ibu melakukan ini. Terlihat kenyang padahal merasa lapar, hanya demi aku. Orang yang sering menyusahkan. Ibu sering memilih merasa getir, daripada melihatku khawatir. Memiliki kepekaan tinggi terhadap hal yang tersirat walaupun tak tersurat, Ibu jutaan kali lebih hebat dari pacarmu dalam hal tersebut. Tanpa mengucap "aku lapar" ibu sudah menyiapkan makanan di meja makan, setiap pagi. Yang selalu aku ingat. Sebanyak samudera air mata yang tumpah dari kelopak mataku, sebanyak itu pula ibu mengusapnya. Sungguh. Selama apapun aku memilih mainan, selama itu pula ibu menunggu dengan sesekali melontarkan senyuman. 
Suatu malam gelap aku melihat, ibu masih memakai mukena dan memegang al qur'an, binar-binar matanya menusuk hatiku "ibu kenapa?" setengah mengantuk dan sedih, dengan suara perlahan. pelan sekali. "sebentar lagi kamu kuliah" hanya itu. Ibu tak kuasa lagi menahan beratnya tekanan. Dalam kelopak mata. Memelukku erat sambil menangis, di malam itu. Akupun ikut larut, tak kurasa satu persatu akhirnya menjadi beribu. Air jatuh yang mewakili rasa yang tak mampu berucap, jangankan berucap. Menatap pun tak mampu. Dekapan Ibu lebih kurang mewakilkan apa yang hendak dia ucapkan "sebentar lagi kamu kuliah, ayah dan ibu hanya berdua disini. kesepian demi kamu, yang siap menyongsong masa depan." arrgghhhh. IBUUUUUU.

Ayah, Ibu maafkan.
Sering aku mengabaikan apa yang seharusnya aku lakukan, melawan apa yang tak seharusnya kulakukan. Semuanya mengecewakan, Bagi kalian... Penyesalan. Itu yang jelas tergambar dalam benak pikiran. Maafkan. Aku cinta kalian, dengan segala kekurangan. Sekali lagi. Maafkan, aku dengan segala kekurangan.  Maafkan. Maafkan. Maafkan.
This entry was posted in :


Tak ada yang lebih indah dari sebuah rasa cinta yang berakhir dengan bahagia. Tak ada yang lebih luar biasa dari sebuah nafsu yang terjaga. Tak ada yang lebih pahit dari sebuah ucapan perpisahan dari orang yang kita sayangi. Tak ada yang lebih menakutkan, rasa yang tak biasa masuk ke dalam jiwa tanpa diduga, padahal tak menginginkannya. orang menyebutnya. Cinta.

Awal dari hal yang tak biasa adalah bersikap biasa, selangkah menuju bercanda, berbagi tawa,  nyaman ketika bersama, tak perlu diucapkan lagi. Otomatis, rasa suka menyelinap dalam jiwa. Tanpa kureka, bayanganmu terlintas secara nyata. Indah memang kurasa, hanya aku tak ingin terlalu larut dalam keadaan seperti ini, tak ingin ku menodai hatiku. Lagi.

Sikapmu yang penuh perhatian, tulus tanpa memikirkan sebuah balasan, semakin membuatku candu. Ingin selalu bertemu denganmu. Tutur kata yang terjaga, seolah kamu memang orang yang bisa menjaga. Aku pikir menjaga diriku juga. Parasmu memang tak terlalu tampan, hanya enak dipandang dengan pakaian yang selalu  rapih. Walau begitu, kamu nampak sempurna dalam segala aspek penilaianku.

Seiring berjalannya waktu rasa ini tak kunjung pergi, malah semakin menjadi-jadi. Yang paling aku takuti, kita saling mencintai tanpa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Selalu ada yang "disakiti" ketika dua insan saling "mencintai" dan aku tak ingin itu semua terjadi. Sesungguhnya itu menodai hati yang suci.

Arrgghh. Ingin rasanya sejenak aku membuang rasa ini. Mati. Biar saja kita tidak saling mengenal jika akhirnya ini semua menjadi aral. Aku harap apa yang dulu pernah kita mulai segera usai. Bila akhirnya terjadi konflik mendalam di dalam lubuk hati. Walaupun bersikeras aku mencoba, membuang jauh segala yang kurasakan, menguraikannya menjadi sebuah kenangan. Nihil yang kudapat.

Saat ini. Pilihanku adalah membatasi diri, interaksi maupun komunikasi dengan. Ya. Pujaan hati yang tak mau aku mengakuinya.Satu sisi berbisik. Aku tak rela melihatnya dengan orang lain, lebih kurang, aku ingin memilikinya. Sisi lain. Aku tak yakin, apa yang akan kita jalin merupakan yang terbaik, lebih kurang aku tak ingin mengecewakan. 

Sering aku membaca, jeritan tak langsung. Getir nya menutupi rasa sakit hati, dengan sebuah alibi "itu semua kulakukan demi cinta". Apakah semua orang yang merasakan jatuh cinta menggunakan alibi itu untuk menutupi perihnya hati? apakah cinta yang selama ini aku anggap sebagai tempat berbagi hanya perisai dari sakit hati yang sebenarnya terjadi? Arrggghhhh. 

Aku harus segera tersadar, rasa ini bila dipelihara akan menodai hati. Semoga aku bisa menerimanya. Dengan sepenuh hati, kuharap kamu mengerti, duhai pujaan hati di kemudian hari. Aku bermimpi.

Lebih dari Bingung -



Tak ada yang lebih indah dari sebuah rasa cinta yang berakhir dengan bahagia. Tak ada yang lebih luar biasa dari sebuah nafsu yang terjaga. Tak ada yang lebih pahit dari sebuah ucapan perpisahan dari orang yang kita sayangi. Tak ada yang lebih menakutkan, rasa yang tak biasa masuk ke dalam jiwa tanpa diduga, padahal tak menginginkannya. orang menyebutnya. Cinta.

Awal dari hal yang tak biasa adalah bersikap biasa, selangkah menuju bercanda, berbagi tawa,  nyaman ketika bersama, tak perlu diucapkan lagi. Otomatis, rasa suka menyelinap dalam jiwa. Tanpa kureka, bayanganmu terlintas secara nyata. Indah memang kurasa, hanya aku tak ingin terlalu larut dalam keadaan seperti ini, tak ingin ku menodai hatiku. Lagi.

Sikapmu yang penuh perhatian, tulus tanpa memikirkan sebuah balasan, semakin membuatku candu. Ingin selalu bertemu denganmu. Tutur kata yang terjaga, seolah kamu memang orang yang bisa menjaga. Aku pikir menjaga diriku juga. Parasmu memang tak terlalu tampan, hanya enak dipandang dengan pakaian yang selalu  rapih. Walau begitu, kamu nampak sempurna dalam segala aspek penilaianku.

Seiring berjalannya waktu rasa ini tak kunjung pergi, malah semakin menjadi-jadi. Yang paling aku takuti, kita saling mencintai tanpa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Selalu ada yang "disakiti" ketika dua insan saling "mencintai" dan aku tak ingin itu semua terjadi. Sesungguhnya itu menodai hati yang suci.

Arrgghh. Ingin rasanya sejenak aku membuang rasa ini. Mati. Biar saja kita tidak saling mengenal jika akhirnya ini semua menjadi aral. Aku harap apa yang dulu pernah kita mulai segera usai. Bila akhirnya terjadi konflik mendalam di dalam lubuk hati. Walaupun bersikeras aku mencoba, membuang jauh segala yang kurasakan, menguraikannya menjadi sebuah kenangan. Nihil yang kudapat.

Saat ini. Pilihanku adalah membatasi diri, interaksi maupun komunikasi dengan. Ya. Pujaan hati yang tak mau aku mengakuinya.Satu sisi berbisik. Aku tak rela melihatnya dengan orang lain, lebih kurang, aku ingin memilikinya. Sisi lain. Aku tak yakin, apa yang akan kita jalin merupakan yang terbaik, lebih kurang aku tak ingin mengecewakan. 

Sering aku membaca, jeritan tak langsung. Getir nya menutupi rasa sakit hati, dengan sebuah alibi "itu semua kulakukan demi cinta". Apakah semua orang yang merasakan jatuh cinta menggunakan alibi itu untuk menutupi perihnya hati? apakah cinta yang selama ini aku anggap sebagai tempat berbagi hanya perisai dari sakit hati yang sebenarnya terjadi? Arrggghhhh. 

Aku harus segera tersadar, rasa ini bila dipelihara akan menodai hati. Semoga aku bisa menerimanya. Dengan sepenuh hati, kuharap kamu mengerti, duhai pujaan hati di kemudian hari. Aku bermimpi.
This entry was posted in :

2/16/2013


Bukan sebuah kebetulan, angin malam terkadang membuat kedinginan. Bukan sekedar tulisan, ketika kamu membaca sebuah sms dari orang yang kamu sayangi semua terasa menyenangkan. Dan bukanlah berlebihan, ketika kamu merasakan sebuah cinta, kamu mengharapkan sebuah balasan.

Semua orang merasa, jatuh cinta berjuta rasanya. Namun bagiku, jatuh cinta. Malu mengungkapkannya.

Semoga kamu tak memperhatikan, apa yang kulakukan secara diam-diam. Memendam perasaan. Cukup aku yang merasakan, indahnya sebuah senyuman dibalik kekecewaan, manisnya sebuah tawa dibalik sebuah luka. Semua kulakukan di hadapanmu seolah-olah itu nyata, padahal hanya sebuah pura-pura. Demi kamu yang kucinta.

Padamu. Sebenarnya aku menggantungkan sebuah harapan, selalu mengusahakan. Hanya tak berani meminta sebuah kepastian, arrgghhhh itu semua terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.


Aku menyukai hujan karena hujan merupakan waktu yang tepat untuk melamun. Melihat tetesan hujan yang terhalang kaca untuk masuk, teringat sebuah perasaan yang tak kunjung aku minta kepastian dari kamu. Orang yang ku impi-impikan. Ini semua memang terlihat sebuah fiksi, tapi memang inilah yang terjadi. Pada hati.

Pernah aku mengetik sms yang akan ku kirimkan padamu, namun tak juga aku kirim. Hanya tersimpan rapi dalam sebuah draft. Kalian boleh caci aku karena mengungkapkan sebuah perasaan pun tak berani, sekali lagi. Kalian tak akan mengerti, sulitnya menjadi diri ini.

Hingga akhirnya sampai saat ini, aku guratkan apa yang terjadi, dan yang kuyakini akan terjadi suatu hari nanti dalam tinta hatiku sendiri. Bukan hatimu, karena aku tak mampu.

"Jika kita memang jodoh, kita akan bertemu lagi" arggghhhh, sebenarnya kalimat itu tak ingin aku keluarkan. Kalimat bagi orang yang kalah, lelah. Dalam memperjuangkan seorang pujaan.


Halangan bernama "Malu Mengungkapkannya"


Bukan sebuah kebetulan, angin malam terkadang membuat kedinginan. Bukan sekedar tulisan, ketika kamu membaca sebuah sms dari orang yang kamu sayangi semua terasa menyenangkan. Dan bukanlah berlebihan, ketika kamu merasakan sebuah cinta, kamu mengharapkan sebuah balasan.

Semua orang merasa, jatuh cinta berjuta rasanya. Namun bagiku, jatuh cinta. Malu mengungkapkannya.

Semoga kamu tak memperhatikan, apa yang kulakukan secara diam-diam. Memendam perasaan. Cukup aku yang merasakan, indahnya sebuah senyuman dibalik kekecewaan, manisnya sebuah tawa dibalik sebuah luka. Semua kulakukan di hadapanmu seolah-olah itu nyata, padahal hanya sebuah pura-pura. Demi kamu yang kucinta.

Padamu. Sebenarnya aku menggantungkan sebuah harapan, selalu mengusahakan. Hanya tak berani meminta sebuah kepastian, arrgghhhh itu semua terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.


Aku menyukai hujan karena hujan merupakan waktu yang tepat untuk melamun. Melihat tetesan hujan yang terhalang kaca untuk masuk, teringat sebuah perasaan yang tak kunjung aku minta kepastian dari kamu. Orang yang ku impi-impikan. Ini semua memang terlihat sebuah fiksi, tapi memang inilah yang terjadi. Pada hati.

Pernah aku mengetik sms yang akan ku kirimkan padamu, namun tak juga aku kirim. Hanya tersimpan rapi dalam sebuah draft. Kalian boleh caci aku karena mengungkapkan sebuah perasaan pun tak berani, sekali lagi. Kalian tak akan mengerti, sulitnya menjadi diri ini.

Hingga akhirnya sampai saat ini, aku guratkan apa yang terjadi, dan yang kuyakini akan terjadi suatu hari nanti dalam tinta hatiku sendiri. Bukan hatimu, karena aku tak mampu.

"Jika kita memang jodoh, kita akan bertemu lagi" arggghhhh, sebenarnya kalimat itu tak ingin aku keluarkan. Kalimat bagi orang yang kalah, lelah. Dalam memperjuangkan seorang pujaan.


This entry was posted in :

2/15/2013

Aku teringat. Setiap malam terbayang wajahmu, senyum manis dari bibirmu. Padahal setiap kita bertemu, Selalu aku hanya mencuri kesempatan memandangimu, ketika kamu tidak melihat ke arahku. Ya, menjadi secret admirer (pemuja rahasia).

Aku merasa. Berada satu momen denganmu merupakan sebuah hal langka, yang mampu membuatku terbata-bata saat berkata. Ingin aku ucapkan kata, entah banyak atau sedikitnya, yang terpenting kita bisa berbicara dalam ruang dan waktu yang sama.

Aku mencari tahu. Kebiasaanmu, alamat rumahmu, makanan kesukaanmu, tempat nonkrongmu, teman laki-laki yang dekat denganmu, satu persatu aku tanyai itu kepada temanmu. Hingga aku berani meminta nomor teleponmu. Ya, langsung darimu.

Aku merasa senang. Tak terasa 1 bulan sejak aku dan kamu mulai sering berkomunikasi, via twitter, bbm, sms, telepon, dan tentu saja, saat aku dan kamu saling bertatap muka. Saking senangnya hati ini, dan seringnya kita berkomunikasi, yang pertama kali kulihat ketika bangun tidur adalah sms darimu.

Aku pura-pura. Benih cinta mulai tumbuh. Kurasa. Hanya aku memilih pura-pura tidak merasa. Aku tak mau apa yang kita bangun menjadi sia-sia hanya karena sebuah cinta, yang belum tentu membuat kita bahagia. Hingga aku merasa, semuanya semakin menjadi-jadi, membuatku hampir mati.

Aku memberanikan diri. Datang ke hadapanmu dengan berbagai kemungkinan dan bayangan yang menyeruak dalam hati. Aku abaikan, memberanikan diri untuk berkata "aku cinta padamu" 
"Maaf, aku sudah kembali dengan mantanku" jawaban yang kuterima bagai tamparan keras di wajah. Hati juga. Kurasa.

Aku tersadar dalam bayangan. Aku rindu padamu. Tak lebih dari itu, untuk bertemu denganmu aku tak mampu, apalagi ketika kamu berjalan dengan mantanmu.

Sebatas Rindu

Aku teringat. Setiap malam terbayang wajahmu, senyum manis dari bibirmu. Padahal setiap kita bertemu, Selalu aku hanya mencuri kesempatan memandangimu, ketika kamu tidak melihat ke arahku. Ya, menjadi secret admirer (pemuja rahasia).

Aku merasa. Berada satu momen denganmu merupakan sebuah hal langka, yang mampu membuatku terbata-bata saat berkata. Ingin aku ucapkan kata, entah banyak atau sedikitnya, yang terpenting kita bisa berbicara dalam ruang dan waktu yang sama.

Aku mencari tahu. Kebiasaanmu, alamat rumahmu, makanan kesukaanmu, tempat nonkrongmu, teman laki-laki yang dekat denganmu, satu persatu aku tanyai itu kepada temanmu. Hingga aku berani meminta nomor teleponmu. Ya, langsung darimu.

Aku merasa senang. Tak terasa 1 bulan sejak aku dan kamu mulai sering berkomunikasi, via twitter, bbm, sms, telepon, dan tentu saja, saat aku dan kamu saling bertatap muka. Saking senangnya hati ini, dan seringnya kita berkomunikasi, yang pertama kali kulihat ketika bangun tidur adalah sms darimu.

Aku pura-pura. Benih cinta mulai tumbuh. Kurasa. Hanya aku memilih pura-pura tidak merasa. Aku tak mau apa yang kita bangun menjadi sia-sia hanya karena sebuah cinta, yang belum tentu membuat kita bahagia. Hingga aku merasa, semuanya semakin menjadi-jadi, membuatku hampir mati.

Aku memberanikan diri. Datang ke hadapanmu dengan berbagai kemungkinan dan bayangan yang menyeruak dalam hati. Aku abaikan, memberanikan diri untuk berkata "aku cinta padamu" 
"Maaf, aku sudah kembali dengan mantanku" jawaban yang kuterima bagai tamparan keras di wajah. Hati juga. Kurasa.

Aku tersadar dalam bayangan. Aku rindu padamu. Tak lebih dari itu, untuk bertemu denganmu aku tak mampu, apalagi ketika kamu berjalan dengan mantanmu.

This entry was posted in :