2/20/2013

Ambigu Part I


Kita semua tahu, manusia diciptakan tidak sendiri. Memiliki pasangan yang sudah ditetapkan sang Ilahi. Tapi apakah kita akan terus menunggu dengan beralasan pendapat itu? atau mencari, mengikuti keinginan hati? semua tergantung pilihan sendiri. 
Tahukah kalian arti dari kata mencari? Keinginan hati untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Aku rasa itu yang lebih baik ketimbang menunggu, yang membelenggu. Aku sendiri? Mencari!

Pernah merasakan, berhasil menemui orang yang kita cintai dengan mencari? Dunia terasa milik sendiri, rasa bahagia tak kunjung berhenti bak hujan deras membasahi bumi, urusan dia juga mencintai? itu urusan nanti. Terpenting aku merasa senang yang tak kunjung pergi. Aku sangat menikmati.
Musim boleh semi, tapi hati tetap berseri-seri. Dengan berani aku mulai menghubungi, dalam angan "dia yang akan menjadi pujaan hati" salah.. bukan dia tapi anda. Kurasa. Respon yang kamu berikan positif, mulai aku merasa pendekatan yang aku lakukan efektif
Renata, namanya. Hanya lebih sering ku panggil dia rere, terdengar lebih dekat dan akrab. Begitupun dia, memanggil aku dengan seenaknya, walau begitu aku tetap suka. "Jo" panggilan yang dia ucapkan, padahal namaku Yosua, entah darimana dia mendapatkan panggilan seperti itu, tapi tak mengapa, aku selalu suka apapun darinya. lebih dari itu. Aku merasa Bahagia. Dengannya.

Dua minggu, tak terasa berlalu dengan cepatnya, Lebih cepat dari rekor pesawat jet yang pernah ada. Walau itu hanya perasaanku saja. Hingga aku lebih berani dalam berkomunikasi dengan Renata. Yang aku cintai. Malah hari ini, kita pulang bersama, dibumbui dengan penuh canda tawa. Kamu menyukai ketika aku mulai berpuisi, akupun demikian, menyukai ketika melihat senyum yang tulus dari hati. Sesekali kamu mencubit pinggangku, respon saat kita bergurau, aneh! aku malah tak mau lepas dari cubitanmu, untuk sekedar lebih lama bersamamu. Hari mulai senja, burung-burung kecil mencari induknya. Kamu pulang ke rumah, memandang kesini, tempat ku berdiri. Sesekali menebar senyum penyejuk hati. Ahh, rasa seperti ini, membuatku merasa mati suri, tubuh kaku, wajah malu, hati ingin memilikimu. Selalu.

Sampai dirumah, segera aku merebah, memanjakan tubuh yang lelah. Mengadah melihat langit-langit rumah. Indah!! Tergambar jelas. Senyum lepas membuat hati ini lepas landas, jauh ke galaksi atas. Walau hanya bayangan, kamu tampak nyata dalam pikiran, cukup membayangkan kamu, seakan-akan kita saling berhadapan. Mungkin terkesan berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan. Orang yang pernah/sedang jatuh cinta pasti memaklumkan.

"Renata. Apa kamu merasakan yang sedang aku pikirkan? Apa kamu memikirkan saat kita saling berhadapan? Apa kamu bisa mengartikan kode-kode dari apa yang aku lakukan? Atau Boleh aku jujur ketika kamu tak mampu menjawab pertanyaan yang aku tutur?. Aku merasa bulan tak memancarkan segemerlap dulu, aku telah melihat yang lebih gemerlap, ya. Senyum dan lesung pipimu. Aku menggombal? menggombal katamu? ketika aku berani berkata jujur, menahan malu demi menggapai keinginan. Memilikimu. Lebih dari itu, selalu bersamamu" Pesan ini hanya berakhir pada sebuah draft, pesan yang aku kirim hanya sebatas "Makasih yaa, kapan-kapan kita jalan bareng lagi. Jangan lupa makan sama mandi :)" Bukan sebuah tirai berani yang dihadapi. Hanya aku masih menanti, senja hari saat kita saling mengerti. Dengan sendiri.

"Pagi hari minggu, aku menyambutmu dengan semangat menggebu" dalam hati ini. Bukan tanpa alasan, dan bualan. Hari ini aku dan Renata jalan, dengan harapan, sebuah angan yang menjadi kenyataan. Kita menjadi pasangan. Padahal hanya 1 hari, sejak aku mengajakmu jalan. Tapi terasa lambat sekali, lebih lambat dari seekor kura-kura yang pernah ada. Satu hari terasa berhari-hari. Mungkin ini faktor akan bertemu Renata, yang aku cinta. Ah sudahlah, yang penting sekarang kita tidak dalam sebrang, satu jalan.

Jalan-jalan di taman memang berkesan, aku mengajakmu, dengan menggantungkan sebuah harapan. Pukul empat sore aku menjemputmu, sengaja aku tidak membawa kendaraan, lebih memilih jalan berduaan. Pandanganku tak mau lepas dari wajahmu, Ah malu aku ketika kamu menyadari itu, segera aku berpura-pura, membuang wajah ini, sejauh yang aku bisa. Namun kamu hanya tersenyum, senyum ambigu menurutku. Antara kamu malu dan menyukai ketika, aku melakukan itu.

Duduk di taman berduaan adalah kenyataan yang sekarang sedang aku dan Renata lakukan. Memecah sepi dengan senyuman sesekali, saat kamu menyukai candaan ini.Tapi itu hanya sesekali, saat ini aku memilih suasana sunyi, untuk mengucapkan yang kurasakan dalam hati. Gugup? pasti. dalam hati, aaku memilih nanti..nanti dan nanti, sampai akhirnya aku mulai berani. " kamu tau, segala hal yang kita rasakan lebih baik kita ungkapkan, walaupun itu menyenangkan atau menyakitkan?" dengan gugup aku berucap. Kamu hanya menjawab dengan anggukan, aku lanjutkan "Aku sayang kamu" hening.. hening sekali, suara orang sekitar tak terdengar. bukan tuli hanya memang terasa sunyi. "Re" aku mencoba menyadarkannya, dia terlihat heran dengan wajah memerah, seakan dia tak ingin berbicara, bingung dengan yang dia rasa. Mulutnya mulai bergerak dan keluarlah kalimat "Jo..."
Bersambung ke Ambigu (Part II)

0 komentar:

Poskan Komentar